Garis Waktu Batik Indonesia

Batik Perakanakan adalah sub genre dari batik pantai. Batik peranakan diproduksi oleh banyak orang Peranakan, baik Tionghoa maupun Belanda, yang tinggal di sepanjang pantai utara (pantura) Jawa. Setelah kemerdekaan Indonesia, batik Peranakan hanya diproduksi dari keturunan Tionghoa. Daerah produksi batik peranakan meliputi Jakarta (sebelum dipindahkan di sekitar Karet dan Palmerah), Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Lasem, Demak, Tuban dan Gresik. Batik pria peranakan dianggap mulai tumbuh setelah berakhirnya Perang Jawa (sekitar tahun 1830) dan mengalami tumbuh kembang pesat pada awal abad ke-20.

Ciri khas dari batik Peranakan adalah penggunaan motif mitologi Cina seperti kilin, dragon, phoenix (hong), god, fire, mega, flower dan sucker dengan corak khusus. Motif batik tipe silang yang khas antara lain buketan, jlamprang, dan lokcan. Interaksi peranakan Cina dengan batik tradisional melahirkan batik tiga negara, dua negara dan seterusnya. Pada masa penjajahan Jepang lahirlah motif hokokai Jawa.

Berbeda dengan batik Jawa yang banyak menggunakan warna-warna kental karena menggunakan pewarna alami (soga, gen, tiger wood, pewarna kayu, akar irama, dll), batik peranakan banyak menggunakan warna primer (merah, biru, hijau, dll. ) dari pewarna kimia buatan. Batik peranakan juga menjadi pelopor pewarnaan primer dengan gradasi. Teknik penggunaan warna gradien dipelopori oleh Oey Soe Tjoen.

Kisah Oey Soe Tjoen (1901-1975) dimulai di Pekalongan pada tahun 1925. Oey muda memutuskan untuk meninggalkan usaha keluarga memproduksi batik cap. Bersama Kwee Tjoen Giok Nio, istrinya, ia merintis batik tulis. Rumahnya di Jalan Raya Kedungwuni, Pekalongan, digunakan sebagai tempat kerja.

Oey mengerjakan motif pantai utara tradisional seperti malam, merak, pringgodani dan bunga: mawar, krisan, tulip dan anggrek. Polanya dibuat sesempurna mungkin dengan melibatkan pembatik profesional. Dari dulu, batik Oey dikerjakan secara berlapis. Seorang pekerja khusus mengerjakan motif daun. Alasan selanjutnya dilakukan oleh karyawan lain.

Oey tidak memasarkan karyanya di pasar tradisional. Dia mengajari anak buahnya untuk mendekati orang kaya. Berkat strategi ini, batik Oey terkenal di antara yang terbaik. Tidak sedikit pedagang kaya dari pantai utara yang tertarik dan membelinya. Usaha Oey semakin cemerlang ketika karyanya juga disukai oleh Kudus, Magelang dan banyak provinsi lainnya. Beberapa pengusaha rokok dan tembakau. Saking populernya, kain batik Oey menjadi anugerah wajib bagi sejumlah pengusaha Tiongkok.

Produksi batik Oey sedang naik daun. Pada puncaknya, mereka memiliki karyawan hingga 150 orang. Mereka dilatih membatik dengan baik. Oey menegaskan, proses pembuatan harus dilakukan secara tradisional untuk menjaga kualitas. Menurut Widianti, pencinta batik lokal Indonesia-Eropa, Van Zuylen dan istrinya, Eliza van Zuylen, turut membantu mengembangkan batik Oey. Pekerja Belanda di Pekalongan memperkenalkan warna baru selain merah dan biru yang merupakan warna klasik yang menjadi identitas tradisional batik tradisional Pekalongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *